Gejala, Diagnosis, dan Tata Laksana pada Pasien Peminum Kafein yang Mengalami Adiksi

  • Susanty Dewi Winata Ukrida

Abstract

 

Abstrak

Kafein merupakan zat psikoaktif yang paling sering dikonsumsi oleh masyarakat. Kafein digunakan sebagai stimulan sistem saraf pusat dan mempercepat metabolisme.  Konsumsi kafein berguna untuk meningkatkan kewaspadaan, menghilangkan kantuk, dan menaikkan mood. Penggunaan kafein juga dapat menyebabkan gangguan ansietas dan gangguan tidur yang terinduksi kafein Kondisi intoksikasi kafein dapat memberikan gejala antara lain gelisah, gugup, insomnia, emosional, urinasi berlebihan, gangguan pencernaan, otot berkedut, denyut jantung yang cepat dan tidak teratur. Adiksi kafein dapat menyebabkan intoksikasi, keadaan putus kafein, dan kafein dependen. Konsumsi kafein yang bekelanjutan dapat mempengaruhi beberapa faktor seperti efek farmakologi kafein, predisposisi genetik, gejala putus kafein, usia, dan norma sosial. Semakin bertambahnya coffee shop di Indonesia, menyebabkan semakin banyaknya masyarakat yang berpeluang menjadi adiksi kafein, sebaiknya diberikan sosialisasi mengenai pencegahan ketergantungan kafein, tatalaksana sesuai gejala simptomatik dan dapat diberikan psikoterapi.

 

Kata kunci: kafein, adiksi kafein, intoksikasi kafein

 

Abstract

Caffeine is a psychoactive agent and the most consumed substance in the society. Caffeine is commonly used to stimulate central nervous system and accelerate metabolism. Consuming caffeine can increase alertness, mood, and get rid of drowsiness. Excess in caffeine can cause both sleep and anxiety disorders. Caffeine intoxication can cause symptoms such as anxiety, nervous disorder, insomnia, excessive emotion, excessive diuresis, gastrointestinal disorders, wrinkled muscle, tachycardia and arrhythmia. Caffeine addiction can cause caffeine intoxication. Continuous consumption of caffeine affects many factors such as caffeine pharmacology effects, genetic predisposition, caffeine-withdrawal symptoms, age, and social norms. The increasing the number of coffee shops in Indonesia increase the chance of people to be caffeine addict. Hence,  socialization on preventing caffeine addiction, management of caffeine addiction, and psychotherapy should be given.

 

Key words: caffeine, caffeine addiction, caffeine intoxication

 

Author Biography

Susanty Dewi Winata, Ukrida
Staf Pengajar Bagian Kesehatan dan Keselamatan Kerja FK Ukrida
Published
2016-05-27
How to Cite
Winata, S. (2016). Gejala, Diagnosis, dan Tata Laksana pada Pasien Peminum Kafein yang Mengalami Adiksi. Jurnal Kedokteran Meditek, 21(57). Retrieved from http://ejournal.ukrida.ac.id/ojs/index.php/Meditek/article/view/1168
Section
Artikel Penelitian